Nama   :           Suci Rezky Fhatiiya

NRP    :           G64100048

Laskar 20 panji 4

Saya akan menceritakan sedikit pengalaman saya ketika duduk dibangku sekolah menengah atas, semoga pengalaman ini  dapat menginspirasi kita semua. Alhamdulillah ketika dikelas X SMA saya masuk dikelas unggulan. Di kelas ini anak-anaknya kelihatan pintar, aku sempat minder  karenanya. Setelah duduk dikelas ini lumayan lama, baru ketahuan mana yang benar-benar ingin berprestasi. Aku sudah berusaha semaksimal mungkin belajar, tapi sulit untuk mengungguli mereka. Akhirnya aku hanya mengekor dikelas ini, aku pun tak pernah mendapatkan peringkat sepuluh besar disini.

Dikelas X ini, aku ikut ekskul ROHIS. Disana kami dibagi menjadi beberapa kelompok kecil, sering disebut kelompok mentoring. Kami dibimbing oleh alumni sekolah kami. Setiap kali berkumpul rasanya nyaman sekali, disetiap materi penuh ilmu namun tidak terbebani, kami sering bercanda tertawa ria. Aku jadi lebih mengetahui banyak ilmu Islam disini, akhirnya aku memutuskan menutup aurat dikelas X semester II ini. Aku juga menerapkan ilmu jujur dikelas ini. Walaupun banyak tantangan dalam menerapkannya, tapi aku tetap berusaha. Tantangannya mulai dari bagaimana cara menolak yang benar ketika teman mau melihat pekerjaan rumah dan bagaimana cara menjaga hati untuk tidak menyontek disaat ulangan.

Setelah pengumuman peringkat kelas, pembagian kelaspun dimulai. Aku dapat dikelas XI IA 1, sedikit sedih karena itu bukan kelas unggulan. Banyak teman-teman yang menghiburku, aku sadar bahwa ini adalah awal dari perjalanan jejak prestasiku. Aku mencoba mengambil hikmahnya, aku selalu berpikir positif. Benar sekali, kalau dikelas ini aku lebih mudah mendapat peringkat karena para pesaing beratku ada dikelas tetangga. Dan mulai saat itu, segenap titik semangatku menyeruak keluar dan meledak. Ibu dan ayah aku akan membanggakan kalian. Selama beberapa bulan duduk dikelas ini, memang benar teman-temanku tidak terlalu termotivasi untuk belajar. Namun, ini semua tak semudah yang aku bayangkan. Tantangan dalam bersikap jujur justru lebih susah diterapkan disini. Anak-anaknya banyak yang malas, sehingga jika ada pekerjaan rumah sebagian dari mereka hanya mengandalkan teman-temannya. Aku sering dicemooh oleh mereka, mereka juga suka “memujiku” sok kesucian lah. Dan yang lebih menyebalkan, ada yang bilang aku sulit besosialisasi. Mereka beranggapan bahwa aku mempunyai sedikit teman karena aku tidak bisa bergaul dengan baik. Menurutku merekalah yang tidak bisa bersosialisasi karena mereka hanya mau berteman dengan teman yang bisa diandalkan dalam hal keburukan sekalipun. Disanalah, aku mulai lelah dengan semuanya. Disaat semua keluargaku tidak ada dirumah, aku sering menjerit dan menangis. Aku mengumpati mereka yang mengejekku. Aku benar-benar tersudut dititik kepasrahanku akan sikap mereka terhadapku. Apa mereka tidak melihat kalau aku sering berteman dan berbincang dengan teman-teman. Mereka hanya melihat sisi burukku.

Sampai pada saat pengumuman peringkat kelas XI disemester 1, namaku dipanggil oleh guru. Aku segera berbaris rapi didepan lapangan bersama dua temanku yang lain. Alhmadulillah aku mendapatkan peringkat I, aku juga mendapatkan uang tanda prestasi. Semenjak itu teman-teman mulai mendekatiku, mereka menanyakan pelajaran yang belum meraka pahami. Aku rasa mereka mulai bosan meminta jawaban padaku, karena tak mungkin aku beri tahu. Alhamdulillah juga kulihat ada seorang teman yang mulai menerapkan sikap jujur ini. Aku benar-benar bangkit untuk mempertahankan perjuangan ini, aku lakukan semua ini karena aku tahu Dia Maha Melihat.

Nama   :           Suci Rezky Fhattiya

NRP    :           G64100048

Laskar 20 panji 4

Saya akan menceritakan seseorang yang menjadi salah satu inspirasi saya untuk selalu berkarya didunia pendidikan. Ialah Helmi Yahya, saya dan dia lahir dikota yang sama, yaitu kota Palembang. Helmi Yahya lahir pada tanggal 6 Maret 1963, hampir semua orang di negeri ini mengenal Helmi Yahya. Beliau aktif  menjadi pengusaha yang berkecimpung didunia pertelevisian selain itu beliau juga masih tercatat sebagai dosen salah satu sekolah tinggi milik Negara. Semua itu beliau capai dengan usaha yang giat. Beliau tidak pernah bermimpi menjadi seorang yang terjun dalam dunia hiburan, namun beliau hanya bermimpi untuk menjadi kaya. Cita-cita beliau sebelumnya adalah ingin menjadi dokter, tapi beliau tidak pernah menempuh pendidikan yang berhubungan dengan profesi yang akan ia capai. Beliau sempat atau hampir menjadi kakak kelas saya di IPB, namun beliau memutuskan keluar dari sana karena tuntutan ekonomi. Beliau melanjutkan ke sekolah akuntansi karena beliau pada saat itu harus mencari sekolah yang gratis karena beliau yakin orangtuanya tidak akan pernah mampu membiayai sekolahnya. Beliau mempunyai semangat yang tinggi untuk melanjutkan pendidikannya walaupun kesulitan ekonomi melingkupi keluarganya. Ayah beliau sudah meninggal, beliau mensyukuri apa yang orang tuanya berikan karena orang tuanya mampu membuat beliau menjadi seperti ini. Masa kecil Helmi Yahya sangat berbeda seperti sekarang, beliau tidak pernah minum susu, tidak pernah mengenal sabun mandi dan shampoo, bajunya pun seadanya, celana beliau hanya dua hingga tiga potong saja, seringkali beliau bermain dengan bertelanjang dada, beliau lebih banyak belajar di jalanan. Itu juga yang dialami oleh keempat saudara Helmi Yahya termasuk Tantowi Yahya, kehidupan yang sangat memprihatinkan inilah yang memotivasi mereka untuk menggapai kesuksesan. Ayah beliau ketika masih hidup sering mengatakan “Jangan keduluan gaya daripada penghasilan.”Jadi sebelum berhasil jangan gaya-gayaan dulu, namun jika sudah sukses mau gaya apapun silakan saja. Kedua orang tua beliau adalah orang tua yang tidak dengan mudah akan memenuhi apa yang Helmi Yahya dan saudaranya minta. Mereka baru mau memberi sesuatu jika Helmi Yahya dan saudaranya melakukan sesuatu untuk mendapatkannya.

Helmi Yahya dikenal oleh masyarakat umum melalui Kuis Siapa berani, sebelumnya beliau juga pernah menjadi pembawa acara olahraga seperti NBA games. Hasil usaha yang telah beliau capai sampai sekarang adalah perusahaan  Triwarsana merupakan kerjasama Helmi Yahya dengan temannya telah menangani 17 peogram acara televisi.

Itulah sekelumit cerita tentang Helmi Yahya, walau kesulitan dalam ekonomi, namun itu tidak menjadi penghalang bagi beliau dan keempat saudara lainnya untuk terus berprestasi.

IPB Badge